PROGRAM BINA GMP NAPZA UNTAN: Kunjungan ke Lembaga Pembinaan Khusus Anak (LPKA) Kelas II Sungai Raya

KUBU RAYA – Gerakan Mahasiswa Peduli Napza Universitas Tanjungpura (GMP NAPZA UNTAN) kembali melaksanakan aksi nyata melalui program kerja yang bernama “BINA: Bincang Interaktif NAPZA dengan Ahli”. Kegiatan yang berlangsung pada Jumat, 7 November 2025 ini dilaksanakan di Lembaga Pembinaan Khusus Anak (LPKA) Kelas II Sungai Raya dengan mengangkat tema “Diskusi Ringan Mengenal Lebih Dalam Lapas Anak Sebagai Proses Pemulihan”.

Kunjungan ini dihadiri oleh Ketua Umum beserta pengurusnya dan relawan GMP NAPZA UNTAN yang disambut hangat oleh pihak LPKA Kelas II Sungai Raya, diwakili oleh Adam Lestiyo Suprayogi, S.H., dan Sepni Walvri, A.Md.Kep. Agenda utama kegiatan diisi dengan diskusi interaktif antara mahasiswa, petugas, serta anak-anak binaan, guna membedah stigma yang ada.
Dalam kunjungan tersebut disampaikan bahwa anak binaan disana tidak putus sekolah atau dengan kata lain mereka mendapat jaminan pendidikan oleh pihak LPKA Kelas II Sungai Raya. Sepni Walvri, A.Md.Kep., menjelaskan bahwa hak pendidikan anak-anak di LPKA tidak terputus berkat kolaborasi dengan pihak eksternal.
“Kita ada kerjasama dengan PKBM Khadijah, jadi ada fasilitas pendidikan kesetaraan mulai dari Paket A, Paket B, hingga Paket C,” ungkap Sepni.
Tak hanya pendidikan formal, LPKA Kelas II Sungai Raya juga fokus membekali anak binaan dengan life skills agar siap kembali ke masyarakat. Adam Lestiyo Suprayogi, S.H., menegaskan pentingnya bekal keterampilan ini.
“Di sini kita ada pembinaan keterampilan supaya mereka bisa diterima di masyarakat nantinya,” ujarnya.
Beragam pelatihan disediakan, mulai dari kesenian seperti menari dan hadrah, kepramukaan, hingga keterampilan vokasi praktis seperti barbershop, barista, tata boga serta pelatihan kader posyandu remaja bersama Puskesmas Sungai Raya.
Dalam diskusi tersebut, terungkap pula bahwa LPKA menerapkan sistem pendampingan. Setiap anak binaan memiliki pendamping yang berperan layaknya orang tua asuh melalui “Sistem Wali”. Selain itu, keseharian mereka diatur dengan jadwal yang padat dan positif: Senin hingga Rabu diisi bimbingan keagamaan, Rabu dan Kamis untuk sekolah paket, serta Kamis dan Jumat difokuskan pada sesi motivasi oleh Love Borneo dan konseling bersama PKBI.
Sepni Walvri juga mengajak seluruh kalangan masyarakat untuk mengubah cara pandang terhadap anak-anak binaan. “Bukan berarti mereka masuk sini (LPKA) itu jahat. Sebenarnya mereka ini anak-anak baik, hanya saja salah dalam bergaul,” tuturnya memberikan perspektif baru bagi para relawan.
Menutup kegiatan, Kepala Bidang Kajian dan Advokasi GMP NAPZA UNTAN, Troms, menyampaikan apresiasinya atas keterbukaan pihak LPKA. Ia berharap kunjungan ini bukan sekadar hubungan sementara belaka, melainkan awal dari sinergi jangka panjang.
“Saya berharap kunjungan ini menjadi langkah awal dalam membangun hubungan kerjasama kita, dan saya berharap akhir diskusi ini tidak menjadi akhir dari kerjasama antara GMP NAPZA UNTAN dan LPKA Kelas II Sungai Raya,” tutup Troms.

Melalui kegiatan BINA ini, GMP NAPZA UNTAN berharap dapat terus berdiskusi dan mendapatkan pengalaman mendalam yang baru dengan berkunjung ke instansi-instansi untuk membahas suatu isu tertentu.

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *